Awal Mula Bapontar

Awal Mula Bapontar

Awal Mula Bapontar

Rumah Singgah Bapontar terbentuk sejak 1985 dengan berbagai kegiatan sosial untuk membantu para saudara perantau yang mengadu nasib di ibukota. Sejak 2002 Rumah Singgah Bapontar berganti Sanggar Bapontar dengan kegiatan berkesenian Kolintang instrumen musik kayu dari Minahasa dan sampai tahun 2013 banyak sekali kegiatan dan prestasi yang telah diraih oleh sanggar ini.

Prihatin karena Kolintang mulai dilupakan oleh generasi muda dan orang Minahasa tempat Kolintang Kayu lahir, Beiby Sumanti dengan dibantu oleh Danny Mustafa seorang seniman Kolintang dari Gorontalo kemudian aktif melatih sejumlah anak muda yang waktu itu tinggal di Rumah Singgah Bapontar. Dengan kesabaran dan ketekunan dua insan Kolintang ini, terbentuklah grup Kolintang yang tampil pertama kali di salah satu pendopo jalan MPR Jakarta Selatan. Sekarang, anak-anak muda ini telah menjadi pelatih-pelatih Kolintang professional dengan murid dari berbagai kalangan.

Waktu dan proses yang menempa seseorang menjadi lebih baik dari hari ke hari. Begitupun dengan Sanggar Bapontar. Perjalanan satu dekade sebagai sanggar seni dengan berbagai kompleksitas membuktikan bahwa Sanggar Bapontar tetap eksis bahkan lebih besar dari hari ke hari dengan berbagai pencapaian dan prestasi yang ada. Inovasi adalah hal penting yang dilakukan. Awalnya kegiatan Sanggar Bapontar hanya melatih sejumlah lagu dan kemudian membawakannya dalam satu pertunjukan musik Kolintang, tetapi saat ini Sanggar Bapontar menggali (rediscovery) kembali kekayaan musik ini untuk dikembangkan menjadi varian baru Kolintang. Kemudian melestarikan (preservation) karya seni yang indah ini dengan berbagai kegiatan roadshow, konser musik, dan film. Usaha yang terus dan masih akan kami lakukan tanpa kenal lelah adalah mengembangkan (development) Kolintang menuju industry musik yang mandiri, inovatif, dan diminati semua. Sejak 2012 Sanggar Bapontar menyadari bahwa banyak insan seni di dalamnya yang menggangtungkan hidup dari industri ini.

Satu decade lebih Sanggar Bapontar ada dan member warna dalam dunia kesenian Indonesia. Sanggar Bapontar menyadari bahwa perjalanan kesenian tradisional tidak semulus musik modern. Jalan berliku dan terjal dilalui tanpa keluhan karena menyadari, memang itulah yang harus dihadapi oleh para insan seni tradisional. Kurangnya perhatian pemerintah dan minimnya apresiasi masyarakat membuat Sanggar Bapontar melakukan upaya rediscovery, preservation, dan development yang kesemuanya itu terangkum dalam INOVASI.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Facebook

Twitter