SELAYANG PANDANG SANGGAR BAPONTAR JAKARTA

SELAYANG PANDANG SANGGAR BAPONTAR JAKARTA

SELAYANG PANDANG SANGGAR BAPONTAR JAKARTA

Kata “Bapontar” seperti dalam https://id.wiktionary.org/wiki/Wiktionary :Indeks_bahasa_Melayu_Manado diartikan “Pesiar, Berkeliling-keliling”, menjadi landasan awal Sanggar Bapontar untuk menampung para perantau dari Sulawesi Utara dan beberapa daerah lain di Indonesia yang tidak/belum mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal (kontrakan) di Jakarta sejak tahun 1985. Sebelum menjadi sanggar seni dan budaya, Bapontar terjun ke dunia kuliner dengan 7 cabang, diantaranya di Mall Citraland dan Sampoerna Strategic Tower. Seiring perjalanan waktu, Beiby Sumanti berjumpa dengan Danny Mustafa (Untung) pedagang bawang merah dari Gorontalo di pameran Flona Lapangan Banteng 2002, terbentuklah Sanggar Bapontar. Perjumpaan tersebut berujung pada penyelesaian satu set alat musik Kolintang yang dikerjakan di sanggar Jl. Karet Sawah 224 Semanggi, di bawah pepohonan pisang yang tumbuh subur di tempat itu. Dengan selesainya satu set Kolintang ini, para seniman Kolintang yang tersebar di berbagai tempat di DKI Jakarta mulai bergabung dengan Bapontar. Mereka antara lain: Yance Pinontoan, Andre Sumual, Welly Soputan dan Fanny Lesar ( Technical Expert For System ISO 9002 of PT Yamaha Music Manufacturing) yang sampai akhir hidupnya berdedikasi penuh untuk sanggar Bapontar.

            Kolintang Bapontar tampil perdana di sebuah pendopo Jl. MPR, Cilandak dengan para pemain; Danny Mustafa (Untung), Denny Sondakh, Marlon Mangala, Fatli Rompis, Refly Pinontoan, Deni Pinontoan, Randy Pinontoan, Defi Pinontoan, sedangkan Jemmy Koroh dan Bully Sumanti sebagai penyanyi. Penampilan ini mengantarkan Kolintang Bapontar pada berbagai festival Musik Kolintang. Tahun 2009 dan 2010 menjadi Juara Nasional Kolintang dan tahun 2011 menjadi juara Bakudapa Kawanua Sedunia di Batu Malang. Di tahun yang sama, Sanggar Bapontar melalui PT. Bapontar Dunia dan Bapontar Film menyelesaikan proses syuting Film Drama Musikal “KOLINTANG NEVER DIE” dengan bintang tamu Nadya Vega, Gideon Tengker, Abdee Negara (Slank), Ytonk Clubeighties dan Yoyo Bassman yang kemudian ditonton untuk pertama kalinya pada November 2012 sekaligus merayakan Hari Ulang Tahun ke 10 Sanggar Bapontar dan Bapontar Cup Festival Kolintang seJABODETABEK di Anjungan Sulawesi Utara TMII.

            Tahun 2013, Sanggar Bapontar menggelar suatu perhelatan akbar “Minahasa Day” yang merupakan rangkaian acara Kolintang Inspirasi Indonesia. Minahasa Day terbagi atas beberapa kegiatan diantaranya, “Minahasa Day On Bentara Budaya Jakarta 20 Agustus 2013, Pameran Kebudayaan Sulawesi Utara Bersama Kompas Gramedia, dan pada 24 Agustus 2013 mengadakan Konser Kolintang Inspirasi Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta. Penyelenggaraan Konser Kolintang Inspirasi Indonesia merupakan buah karya untuk mengenang Alm. Evert Van Lesar – Technical Expert For ISO 9002 of Yamaha Manufacturing Indonesia. Almarhum, diakhir hidupnya berhasil mengembangkan Kolintang menjadi 25 Instrumen Ansambel yang memiliki fungsi berbeda-beda. Pemecahan rekor MURI untuk 25 Instrumen Ansambel Kolintang Tipe Concerto karya Alm.Evert Van Lesar dilaksanakan pada awal Agustus 2013 bertempat di Museum MURI Mall Of Indonesia Kelapa Gading Jakarta oleh Manager MURI PT. Djamu Djago Indonesia Bpk. Ngadiran. MURI menilai bahwa Kolintang inovasi terbaru ini merupakan yang pertama dan satu-satunya untuk saat ini di Indonesia bahkan dunia.

            Bapontar memberikan warna tersendiri untuk usaha pelestarian kesenian dan kebudayaan Sulawesi Utara terutama Minahasa. Lewat  kegigihan dan semangat Beiby Sumanti, ibu yang bersuamikan Irwan Rumbayan dan ibu dari Diego Sumanti Rumbayan patut di acungi jempol. Lahir dan dibesarkan di Tondano Minahasa, membuat dirinya sangat mencintai Minahasa dengan segala kekayaan baik alam maupun kesenian dan kebudayaan. Disamping itu kepeduliannya kepada seniman tradisional maupun para perantau yang datang ke Jakarta, membuat Sanggar Bapontar tetap solid mencapai tujuan pelestarian yang telah dicita-citakan.

            Dengan meraih predikat Sang “JUARA”, Sanggar Bapontar berkomitmen untuk melestarikan kebudayaan Minahasa dengan balutan modern seperti penyelenggaraan konser musik standar internasional, serta mengembangkan sayap dibidang Film, Rumah Produksi, Media Streaming Radio dan Portal. Bapontar seperti arti – kata namanya, kemanapun dan dimanapun akan selalu menjadi yang terbaik mempresentasikan Minahasa di mata Dunia.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Facebook

Twitter